Cerita Senja
Pada kenyataan manusia juga memiliki batas kesabaran, karena di rasa sudah tidak bisa mendapatkan perasaan sesak di dada. Perasaan sesak yang sedikit demi sedikit menggerogoti batas kesabaran.
Sampai dimana saat ia sudah tidak tahan lagi untuk menahannya, ia bisa meledak. Perlu kalian ketahui, marah nya orang sabar lebih menakutkan dibandingkan dengan orang yang terbiasa marah. Orang sabar menahan gundukkan rasa sakit dan sesak yang sudah menjulang tinggi. Dan dalam waktu tidak lama ia bisa meluapkan amarah suatu waktu.
Sama hal nya dengan seorang gadis cantik yang sedang menangis terisak memegang foto laki-laki, sekisaran setengah abad,yang mana sudah terlebih dahulu dipanggil oleh sang Pencipta.
Hanya dengan foto inilah lagi-lagi ia harus menahan sesak yang terus-menerus menyiksa di dada. Nama gadis itu Senja, tepatnya Binar Senja.
Berapa lama lagi Senja harus menahan sabar. Senja bukan gadis kuat, ia sangat rapuh.
“Pa,” lirih Senja sambil memangku foto yang menjadi satu-satunya harta yang berharga.
Ya, foto tersebut adalah papa nya Senja.
“Senja mau ikut papa aja di sana boleh?” tanya Senja seolah-olah sedang berbicara langsung dengan mendiang papanya.
”Senja udah gak tahan buat ngejalanin semuanya, senja capek pa ..” terisak senja dengan terseduh-sedu.
“Semuanya berubah menjadi semenjak papa gak ada, mama juga berubah, Jingga juga, senja harus gimana?” tangis Senja.
Rama-papa Senja meninggal karena menolong Senja, pada saat Senja ingin menyebrang jalan, dari arah kanan terdapat mobil truk tinggi. Rama yang peka akan hal itu langsung mendorong Senja sehingga Rama malah tertabrak truk tersebut, semenjak kejadian itu semuanya berubah termasuk juga mama dan saudaranya yang menyalahkan Senja atas kematian Rama.
Tangisan Senja sungguh pilu mengingat kejadian itu, air mata nya jatuh secara menyeluruh, siapa saja yang pasti turut iba. Senja menarik nafas lalu menghembuskannya secara kasar, mencoba untuk mengurangi sesak di dekat.
Senja mencoba tersenyum. Mencoba menanamkan ini di hati walaupun Senja ragu untuk mengatakan nya. ”Lo kuat Senja, lo pasti bisa” ucap Senja dalam hati.
Binar Senja, yang memiliki arti cahaya ketika tenggelamnya mentari. Cahaya yang kian meredup ketika pergi meninggalkan langit. Sama hal nya dengan kehidupan Senja yang selalu mendapatkan keredupan di saat cahaya-cahaya lain kian bersinar.
Sungguh begitu miris takdir Senja, entahlah kita juga sebenarnya tidak bisa menyalahkan takdir. Mau itu baik buruknya takdir, kita tidak bisa menghujatnya. Tak jarang kita juga pasti merasa terpuruk dengan takdir yang tidak sesuai dengan harapannya. Seharusnya kita harus bisa menerimanya, karena dibalik sebuah takdir pasti tersimpan hikmah yang bisa kita ambil. percaya takdir-Nya pasti tidak akan membuat hambanya menjadi rugi. kadang-kadang sebagai manusia kurang bersyukur atas apa yang di dapat. percaya semua akan indah pada waktunya.
****
Di pagi hari Senja sudah bersiap-siap dengan pakaian serba hitam, rencananya Senja ingin pergi ke pemakaman untuk mengunjungi papa nya, ia rindu sekali dengan papa nya. Senja menarik sudut bibir ke atas. Senja mencoba tersenyum.
Setelah itu Senja keluar dari kamarnya, ia sempat melewati kamar Sinta-mamanya.
Senja seperti mendengar suara isak tangis dari dalam kamar Sinta. Senja tahu, semenjak papa nya meninggal, Senja yakin mama nya masih belum menerima takdir bahwa rama sudah meninggal. Senja merasa nyeri di dalam dada nya. Senja mencoba pintu pintu Sinta.
"Ma,"
“Buka pintu nya ma,”
“Ini Senja ma” ucap Senja, dan lagi-lagi tidak ada respon dari balik pintu. Senja khawatir dan mulai berpikir negatif, takut terjadi yang tidak-tidak dengan mama nya.
Senja berinisiatif untuk membuka pintu tersebut, dan pemandangan pertama yang Senja lihat, Senja melihat mamanya seperti mayat hidup, sambil melihat foto mendiang Rama-papa nya.
Mata nya sayu.
Tubuhnya pun sudah ringkih.
Serta terdapat lingkaran hitam di sekitar mata sayunya.
Senja seolah terasa teriris dengan keadaan Sinta.
“Ma,” panggil Senja dengan lembut
Tidak ada tanggapan
“Mama sudah makan?” tanya Senja dengan pelan, Mata Senja sudah mulai berkaca-kaca, sebisa mungkin Senja harus bisa menahan air mata nya agar tidak jatuh.
Saat pemilik kata itu menoleh, tatapan tajam seakan menghunus saat melihat Senja. Sinta langsung mendorong Senja sampai Senja terjungkal kebelakang.
“Mau apa kamu kesini,” ucap Sinta dengan tajam
“Belum puas kamu buat saya menderita karena kamu, belum puas kamu sudah suami saya meninggal gara-gara kamu!” teriak Sinta dengan menggebu-gebu.
Nafas nya memburu, dada nya naik-turun, terlihat sekali sedang menahan amarah yang begitu besar.
"Ma,"
“Jangan panggil saya mama, saya bukan mama kamu!” teriak Sinta.
deg
Kalimat itu, mengapa begitu menusuk sekali. Senja merasa di tusuk dari belati yang begitu tajam. Dada nya terasa sakit, sesak dan nyeri secara bersamaan.
Segitu buruknya Senja di mata Sinta, sampai-sampai Sinta saja tidak bersedia mengakui Senja sebagai anaknya lagi.
Senja senyum miris, apa ini takdir yang ia dapat? Takdir yang amat pedih, Sinta mulai memberontak, barang-barang yang di beri dia lemparkan ke arah senja.
“PERGI!!”
“KAMU PEMBUNUH!”
“PERGI DARI SINI !!!”
Tak lama itu datang seorang pria jangkung datang tergopoh-gopoh mendengar suara dari dalam kamar mama nya. Jingga nama nya, kembarannya Senja. Jingga sudah melihat keadaan mama nya tidak karuan.
“Lo apain mama gue” tuding Jingga sambil menenangkan Sinta nya yang sudah menangis. “Belum puas lo udah buat mama gue kaya gini” ucap Jingga tajam.
“Itu mama gue juga ga” sanggah Senja seolah tidak setuju dengan ucapan yang Jingga lontarkan.
Jingga memandang Senja dengan tatapan sinis.
“Mana ada anak yang sudah membunuh orangtuanya sampai meninggal, mana ada anak yang buat orangtuanya menderita” sarkas Jingga dengan mengepalkan tangan nya.
”GUE BUKAN PEMBUNUH!” teriak Senja dengan menggebu-gebu
Air mata senja jatuh menyeluruh, lagi dan lagi kali kedua Senja pembunuh dengan orang terdekatnya. Cukup sudah Senja menahan kesabarannya.
“Kenapa kalian memperlakukan gue kaya gini?” tanya Senja dengan terisak
“Gue juga gak minta papa buat nyelamatin gue waktu itu. Dan kalau gue tau keadaannya kayak gini, lebih baik waktu itu papa gak usah nyelamatin gue ”ucap Senja dengan pilu
“Biar gue aja yang mati sekalian”
Jingga terdiam
Entah kenapa perasaan pesan mulai menghantui nya, tidak seharusnya ia menuduh nya, tetapi entah kenapa lagi-lagi ego lebih menguasai keadaannya sekarang.
“Iya, lebih baik waktu itu lo aja yang mati” sarkas Jingga
Senja tersenyum kecut, seolah olah-olah ia terus menerus disalahkan, bukankah itu takdir bahwa setiap yang bernyawa pasti akan merasakan. Lalu kenapa mereka masih tetap menyalahkannya.
Senja langsung berlari menjauh dari Sinta dan Jingga. Air mata nya lagi-lagi jatuh cinta sesak di dada. Cukup sudah Senja menahan semuanya lebih jauh lagi. Sungguh, Senja tidak kuat membantunya.
****
Di sore hari setelah ke pemakaman papa nya, Senja tidak langsung pulang. Senja sekarang berada di sebuah taman yang tidak jauh dari rumah nya.
Senja sedang menikmati tenggelamnya matahari. Sama seperti namanya, Binar Senja suka sekali dengan Senja. Entahlah setidak nya Senja bisa melupakan beban yang ditampung saat dalam keadaan seperti ini. Dengan melihat Senja, saya merasa tenang.
Komentar
Posting Komentar